* Dua Rumah Ambruk
Wed, Apr 6th 2011, 08:55
LANGSA - Setelah di Tangse, Pidie, musibah longsor dan banjir kembali menghantam Kecamatan Birem Bayeun, Aceh Timur. Banjir dan longsor itu juga mengakibatkan dua rumah ambruk dan putusnya sarana transportasi di Jambor Labu dan Alue Sentang.
Informasi yang diperoleh Serambi, Selasa (5/4) sore menyebutkan, banjir bandang di Alue Seuntang dan longsor di Jambor Labu, terjadi Jumat (1/4) lalu. Meski tidak ada korban jiwa, namun banjir bandang telah mengakibatkan putusnya jalan dan jembatan sehingga sarana transportasi menuju ke Desa Jambor Labu terganggu.
Sekdes Jambor Labu, Sumardi, via telepon kepada wartawan mengatakan, banjir terjadi sejak empat hari yang lalu. Bahkan setelah terjadi banjir dan longsor, hubungan darat ke desanya putus total akibatnya amblasnya sebuah bukit kuburan. Menurut dia, beberapa alat berat milik Pemkab Aceh Timur telah dikerahkan selama tiga hari berturut-turut, sehingga arus transportasi kini sudah terbuka kembali.
Mengenai tiang listrik yang tumbang, kini belum diperbaiki oleh pihak PLN. Dia menyebutkan, areal perkebunan yang ditimbun longsor yakni kebun milik Suparno dan Hayadi serta beberapa warga lainnya. Camat Birem Bayeun, Akramuddin SSos membenarkan, longsor di Jambur Labu akibat hujan deras yang menguyur kawasan perdalaman itu sejak empat hari terakhir. Sementara dua unit rumah di Desa Alue Seuntang, ikut disapu banjir bandang. Pihaknya sudah menyiapkan armada menuju ke lokasi untuk mengantar bantuan berupa logistik untuk beberapa KK yang kini sedang mengungsi ke rumah familinya.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Timur, Muhammad Ikbal mengatakan, pihaknya menyerahkan bantuan sembako kepada korban banjir Alue Seuntang, Selasa (5/4). Bantuan tersebut diterima langsung oleh Sekdes Alur Seuntang. Ikbal tidak merincikan bantuan sembako apa saja disalurkan itu.(is)
sumber : Serambinews.com
Tampilkan postingan dengan label Longsor. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Longsor. Tampilkan semua postingan
Senin, 06 Juni 2011
Senin, 18 April 2011
Penggalian Parit PTPN Diduga Sebabkan Jalan Longsor
Wed, Mar 9th 2011, 11:16
IDI - Penggalian parit yang dilakukan pihak KSO (Kerja sama Operasi) PT Perkebunan Nusantara I (PTPN-I) dan PTPN-III untuk mendukung program replanting (peremajaan tanaman) di kawasan Beurandang, Kecamatan Ranto Peureulak, Aceh Timur, diduga telah menyebabkan badan jalan provinsi lintas Peureulak-Lokop, longsor di kawasan Pinto Rimba, Beurandang. Namun, pihak PTPN mengaku, penggalian parit di dekat jalan induk dimaksud sudah sepengetahun pihak Dinas PU.
Informasi yang diperoleh Serambi, Selasa (8/3) menyebutkan, jalan tersebut longsor di bagian bawah aspal dan sangat membahayakan pengguna jalan persisnya di kawasan Pinto Rimba, Beurandang. Apalagi truk yang lalu lalang mengangkut berbagai hasil alam milik masyarakat di sana. Parahnya, jalan yang kini “bermasalah” berada setelah tikungan.
“Kondisinya memang demikian, jalan yang longsor persis berada di bawah aspal. Jika ada dua truk yang berlainan arah tidak bisa lewat sekaligus, harus berhenti salah satunya,” kata Ilyas, salah seorang warga, saat ditanya Serambi tentang jalan tersebut. Ia menambahkan, bila jalan ini putus, maka akan membuat ribuan KK di pedalaman Peunarun dan Lokop terkurung.
Sementara itu Humas KSO PTPN-I dan PTPN III Distrik Aceh Timur, Jumari SE, yang dihubungi Serambi via telepon selulernya mengaku, jalan yang longsor tersebut sudah diperbaiki pihaknya dengan membuat cerucuk di pinggir jalan. “Kita buat parit di sana, sedangkan jarak dengan jalan induk untuk pembangunan parit juga sudah kami tanyakan ke pihak PU,” ujarnya.
Ia menambahkan, badan jalan itu longsor akibat derasnya air banjir beberapa waktu lalu. ”Itu karena banjir beberapa waktu lalu, pembangunan parit untuk mendukung program replanting perkebunan,” kata Jumari, seraya mengaku parit itu dibuat menggunakan alat berat.(is)
Sumber : Serambinews.com
IDI - Penggalian parit yang dilakukan pihak KSO (Kerja sama Operasi) PT Perkebunan Nusantara I (PTPN-I) dan PTPN-III untuk mendukung program replanting (peremajaan tanaman) di kawasan Beurandang, Kecamatan Ranto Peureulak, Aceh Timur, diduga telah menyebabkan badan jalan provinsi lintas Peureulak-Lokop, longsor di kawasan Pinto Rimba, Beurandang. Namun, pihak PTPN mengaku, penggalian parit di dekat jalan induk dimaksud sudah sepengetahun pihak Dinas PU.
Informasi yang diperoleh Serambi, Selasa (8/3) menyebutkan, jalan tersebut longsor di bagian bawah aspal dan sangat membahayakan pengguna jalan persisnya di kawasan Pinto Rimba, Beurandang. Apalagi truk yang lalu lalang mengangkut berbagai hasil alam milik masyarakat di sana. Parahnya, jalan yang kini “bermasalah” berada setelah tikungan.
“Kondisinya memang demikian, jalan yang longsor persis berada di bawah aspal. Jika ada dua truk yang berlainan arah tidak bisa lewat sekaligus, harus berhenti salah satunya,” kata Ilyas, salah seorang warga, saat ditanya Serambi tentang jalan tersebut. Ia menambahkan, bila jalan ini putus, maka akan membuat ribuan KK di pedalaman Peunarun dan Lokop terkurung.
Sementara itu Humas KSO PTPN-I dan PTPN III Distrik Aceh Timur, Jumari SE, yang dihubungi Serambi via telepon selulernya mengaku, jalan yang longsor tersebut sudah diperbaiki pihaknya dengan membuat cerucuk di pinggir jalan. “Kita buat parit di sana, sedangkan jarak dengan jalan induk untuk pembangunan parit juga sudah kami tanyakan ke pihak PU,” ujarnya.
Ia menambahkan, badan jalan itu longsor akibat derasnya air banjir beberapa waktu lalu. ”Itu karena banjir beberapa waktu lalu, pembangunan parit untuk mendukung program replanting perkebunan,” kata Jumari, seraya mengaku parit itu dibuat menggunakan alat berat.(is)
Sumber : Serambinews.com
Selasa, 29 Maret 2011
Warga Ancam Blokir Lintas Peureulak-Lokop
* Longsor di Ujung Jembatan Timpheun belum Ditangani
Fri, Feb 18th 2011, 08:39
IDI - Warga mengancam akan memblokir lintas Peureulak-Lokop, Aceh Timur, jika longsor badan jalan di ujung jembatan Teumpheun, Peureulak Barat, yang telah memakan dua korban jiwa dalam peristiwa laka lantas, Minggu (13/2) lalu, belum ditangani pemerintah. Ancaman itu disampaikan warga menyusul belum ditangani longsoran badan jalan meski telah mengakibatkan dua nyawa melayang. Pemerintah Aceh juga dinilai tidak peka dengan kondisi jalan provinsi itu.
“Lebih baik lintasan ini kami blokir saja. Apa pemerintah harus menunggu korban lebih banyak lagi, baru akan ditangani. Rakyat cukup lama menjerit, ke mana juga mata para pejabat atau penguasa negeri ini. Jangan tunggu rakyat mengamuk, saya menilai pemerintah tidak peka,” kata Mukhtar M Zein (30), salah seorang warga Ranto Peureulak, yang selalu melintasi di jalan longsor tersebut, Kamis (17/2).
Ia mengaku sangat geram dengan sikap Pemerintah Aceh yang acuh tak acuh dengan penanganan longsor badan jalan yang persisnya di ujung kepala jembatan Teumpheun. Padahal, longsor itu sangat mengancam keselamatan pengguna jalan, apalagi berada di cekungan jalan. Artinya, pengendara yang melaju kencang tidak mengatahui persis ada longsor. Ketika laju kendaraan direm tiba- tiba, maka tabrakan tidak dapat dihindari.
“Sekarang coba buktikan jika penguasa peduli rakyat. Ini yang paling dibutuhkan untuk lintasan penghubung Kecamatan Peureulak, Peureulak Barat, Ranto Peureulak, Peunarun, dan Lokop,” ungkapnya.
Hal yang sama juga diungkapkan Ismail alias Aki Rayeuk, tokoh masyarakat Peureulak Barat. Ia mengaku heran dengan lambannya penanganan longsor badan jalan dari pemerintah. Padahal, Aki menyatakan, melalui surat rekomendasi bupati dan camat, pihaknya sudah melayangkan surat ke kantor gubernur di Banda Aceh supaya ditangani secara tanggap darurat lantaran kondisinya memang mendesak.
“Saya sering sekali ditelepon oleh warga, apakah longsor itu tidak akan ditangani oleh pemerintah, dan saya tidak bisa menjawab secara jelas,” ujar Aki Rayeuk.
Menurut Aki, tidak mengherankan jika ada niat warga sekitar yang akan memblokir jalan tersebut sehingga arus transportasi penghubung beberapa kecamatan tersebut akan lumpuh total. Dampaknya, kata Aki, distribusi logistik akan terhenti total dan ancaman kelaparan untuk warga Ranto Peureulak, Peunarun dan Lokop akan terjadi.
“Saya hanya menyarankan, jika pemerintah peduli, silakan komit untuk membangun agar tidak menimbulkan korban jiwa lebih banyak lagi. Bisa saja dengan sistem tanggap darurat, itu pun kalau pemerintah serius, sebelum ancaman blokir benar- benar dilakukan,” demikian Aki Rayeuk.
Sebelumnya diberitakan, longsor yang mengikis badan jalan di ujung jembatan Teumpheun, Kecamatan Peureulak Barat, Aceh Timur, persisnya di lintasan Peureulak- Ranto Peureulak, Minggu (13/2) sekira pukul 15.30 WIB, telah memakan korban. Dua nyawa melayang akibat bertabrakan setelah mengelak longsor badan jalan yang berada pada cekungan jalan tersebut.
Korban yang meninggal yakni Nazaruddin (30) pegawai Puskesmas Ranto Peureulak dan Suhedi, keduanya tercatat sebagai warga Ranto Peureulak. Warga di sana sangat menyesalkan insiden tersebut, karena pemerintah belum menangani jalan longsor meski telah diajukan permohonan beberapa waktu lalu.(is)
Sumber : Serambinews.com
Fri, Feb 18th 2011, 08:39
IDI - Warga mengancam akan memblokir lintas Peureulak-Lokop, Aceh Timur, jika longsor badan jalan di ujung jembatan Teumpheun, Peureulak Barat, yang telah memakan dua korban jiwa dalam peristiwa laka lantas, Minggu (13/2) lalu, belum ditangani pemerintah. Ancaman itu disampaikan warga menyusul belum ditangani longsoran badan jalan meski telah mengakibatkan dua nyawa melayang. Pemerintah Aceh juga dinilai tidak peka dengan kondisi jalan provinsi itu.
“Lebih baik lintasan ini kami blokir saja. Apa pemerintah harus menunggu korban lebih banyak lagi, baru akan ditangani. Rakyat cukup lama menjerit, ke mana juga mata para pejabat atau penguasa negeri ini. Jangan tunggu rakyat mengamuk, saya menilai pemerintah tidak peka,” kata Mukhtar M Zein (30), salah seorang warga Ranto Peureulak, yang selalu melintasi di jalan longsor tersebut, Kamis (17/2).
Ia mengaku sangat geram dengan sikap Pemerintah Aceh yang acuh tak acuh dengan penanganan longsor badan jalan yang persisnya di ujung kepala jembatan Teumpheun. Padahal, longsor itu sangat mengancam keselamatan pengguna jalan, apalagi berada di cekungan jalan. Artinya, pengendara yang melaju kencang tidak mengatahui persis ada longsor. Ketika laju kendaraan direm tiba- tiba, maka tabrakan tidak dapat dihindari.
“Sekarang coba buktikan jika penguasa peduli rakyat. Ini yang paling dibutuhkan untuk lintasan penghubung Kecamatan Peureulak, Peureulak Barat, Ranto Peureulak, Peunarun, dan Lokop,” ungkapnya.
Hal yang sama juga diungkapkan Ismail alias Aki Rayeuk, tokoh masyarakat Peureulak Barat. Ia mengaku heran dengan lambannya penanganan longsor badan jalan dari pemerintah. Padahal, Aki menyatakan, melalui surat rekomendasi bupati dan camat, pihaknya sudah melayangkan surat ke kantor gubernur di Banda Aceh supaya ditangani secara tanggap darurat lantaran kondisinya memang mendesak.
“Saya sering sekali ditelepon oleh warga, apakah longsor itu tidak akan ditangani oleh pemerintah, dan saya tidak bisa menjawab secara jelas,” ujar Aki Rayeuk.
Menurut Aki, tidak mengherankan jika ada niat warga sekitar yang akan memblokir jalan tersebut sehingga arus transportasi penghubung beberapa kecamatan tersebut akan lumpuh total. Dampaknya, kata Aki, distribusi logistik akan terhenti total dan ancaman kelaparan untuk warga Ranto Peureulak, Peunarun dan Lokop akan terjadi.
“Saya hanya menyarankan, jika pemerintah peduli, silakan komit untuk membangun agar tidak menimbulkan korban jiwa lebih banyak lagi. Bisa saja dengan sistem tanggap darurat, itu pun kalau pemerintah serius, sebelum ancaman blokir benar- benar dilakukan,” demikian Aki Rayeuk.
Sebelumnya diberitakan, longsor yang mengikis badan jalan di ujung jembatan Teumpheun, Kecamatan Peureulak Barat, Aceh Timur, persisnya di lintasan Peureulak- Ranto Peureulak, Minggu (13/2) sekira pukul 15.30 WIB, telah memakan korban. Dua nyawa melayang akibat bertabrakan setelah mengelak longsor badan jalan yang berada pada cekungan jalan tersebut.
Korban yang meninggal yakni Nazaruddin (30) pegawai Puskesmas Ranto Peureulak dan Suhedi, keduanya tercatat sebagai warga Ranto Peureulak. Warga di sana sangat menyesalkan insiden tersebut, karena pemerintah belum menangani jalan longsor meski telah diajukan permohonan beberapa waktu lalu.(is)
Sumber : Serambinews.com
Langganan:
Postingan (Atom)