* Jamin Pasokan Gas ke PT PIM
Tue, May 3rd 2011, 10:28
UtamaLANGSA - PT Medco E & P Malaka yang mendapat perpanjangan izin penguasaan Blok A di Aceh Timur akhirnya mengumumkan pencanangan dimulainya kegiatan eksplorasi minyak dan gas (migas) di pengujung tahun ini.
Sementara tuntutan pelaksanaan program community development (CD) yang menjadi bagian tanggung jawab sosial perusahaan migas itu juga terjawab sudah. Pihak Medco menyetujui pembangunan rumah sakit dan pembangunan fasilitas air bersih untuk masyarakat di kabupaten tersebut.
Dana awal yang dialokasikan untuk pembangunan rumah sakit berikut fasilitas air bersih itu--sebelum proses penjualan hasil kotor (bruto)--besarnya Rp 70 miliar dari Rp 230 miliar (nilai asumsi yang bisa berubah sesuai hasil penjualan). Sementara sisanya akan dilunasi dalam 20 tahun mendatang, sejak 2013 hingga 2031.
Selain itu, dimulainya pengoperasian eksplorasi migas di Blok A juga sangat diharapkan oleh PT Pupuk Iskandar Muda (PIM). Perusahaan pupuk yang berbasis di Kota Lhokseumawe itu sudah menandatangani kontrak dengan PT Medco E&P Malaka untuk pasokan gas sebanyak 110 juta kubik per hari (mmscfd) untuk kebutuhan lebih kurang selama lima tahun. Karena selama ini, PT PIM harus mendatangkan pasokan gas yang diangkut dari luar Aceh dengan kapal kargo.
Komitmen Medco itu disampaikan Presiden Direktur/CEO PT Medco E&P Malaka, Budi Basuki dalam sambutan acara pencanangan dimulainya proyek lapangan gas Blok A dan pelaksanaan program pengembangan masyarakat (pembangunan rumah sakit umum daerah) di aula Pendapa Bupati di Langsa, Senin (2/5).
Budi menambahkan, investasi kawasan Blok A di Aceh Timur membutuhkan dana senilai USD 600 juta. Sementara kebutuhan untuk pembukaan satu sumur membutuhkan USD 10 juta atau setara dengan Rp 180 miliar. “Kami juga akan membuka sumur baru yang menjadi cadangan untuk masa depan,” kata Budi.
Menyinggul soal dana tanggung jawab perusahaan itu untuk masyarakat Aceh Timur, Budi Basuki mengatakan, sebagai investor, pihaknya sangat komit untuk melaksanakan tanggung jawab sosial terhadap masyarakat Aceh Timur. “Bahkan, sebelum adanya hasil produksi, kami sudah berikan Rp 70 miliar untuk realisasi pembagunan rumah sakit,” kata Budi Basuki yang disambut tepuk riuh para hadirin.
Budi menambahkan, pembangunan RSUD yang lengkap dengan prasarana dan sarananya itu, termasuk sektor pendukung penyediaan fasilitas air bersih bagi masyarakat di Aceh Timur, diharapkan dapat memberikan kontribusi kepada masyarakat Aceh. Sehingga hubungan baik antara Medco dengan semua pemangku kepentingan akan terus terbina. “Kami juga sangat mengharapkan dukungan dari pemerintah daerah dan seluruh lapisan masyarakat demi kelancaran operasional Medco di Aceh Timur ini,” harap Budi.
Sementara itu, Bupati Aceh Timur, Muslim Hasballah mengatakan, wilayah konsesi pertambangan migas mencakup 15 kecamatan dari 24 kecamatan yang ada di Aceh Timur. Dari 15 kecamatan itu, sebagian besar wilayah subsektor migas berada di dalam wilayah konsesi PT Medco E&P Malaka atau yang disebut dengan Blok A. Sementara PT Pacific Oil & Gas di Kecamatan Rantau Peureulak dan PT Triangle Pase Inc berada di Kecamatan Pante Bidari.
Faktor kemanusiaan
Dalam sambutan yang dibacakan di luar tanpa teks pidato, Bupati Muslim juga menyinggung soal polemik yang terjadi terkait eksplorasi migas Blok A di Aceh Timur. Menurut Muslim, kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah daerah dalam pengelolaan Blok A selama ini bukanlah sebagai bentuk upaya penghambat bagi proses investasi.
“Tapi kondisi yang membuat kami menuntut Medco menyelesaikan hak-hak masyarakat sebelum dilakukan eksplorasi,” kata dia. Dikatakan, semua tuntutan Pemkab Aceh Timur didasari pada faktor kemanusiaan bagi masyarakat yang berada di salah satu kawasan dampak konflik tertinggi di Aceh.
Bupati juga menampik adanya tudingan tolak tarik kepentingan antara ia dan Gubernur Aceh dalam pengelolaan Blok A di Aceh Timur. “Apa yang terjadi selama ini saya dengan Gubernur Irwandi Yusuf tidak lebih akibat miskomunikasi di antara kami. Mungkin saja saya atau beliau yang salah mendengar dalam setiap komunikasi. Apalagi kami hanya berkomunikasi melalui telepon,” ungkap Muslim.
Ke depan, ia mengajak seluruh masyarakat Aceh Timur untuk mendukung kelancaran produksi migas oleh Medco. “Kami sangat membutuhkan dukungan semua pihak untuk menyukseskan program invenstasi di daerah kita,” ajak Bupati Muslim.
Tolok ukur
Sementara itu, Prof Dr A Rahman Lubis, Staf Ahli Gubernur Aceh mengatakan, proses pengelolan migas di Blok A merupakan langkah awal yang baik bagi iklim investasi di Aceh. “Ini menjadi starting point dan plus minus bagi upaya investasi secara keseluruhan di Aceh,” kata Prof A Rahman Lubis dalam paparan singkatnya.
Jamin pasokan
Sementara itu, dalam sebuah jumpa pers dengan pihak Medco E&P Malaka di Hotel Kartika Langsa, Serambi mendapat jawaban kepastian terkait pasokan gas ke PT PIM. Namun, Direktur Pengembangan Aset PT Medco E&P Malaka, Eka Satria mengatakan, pasokan gas ke PT PIM baru bisa dilakukan setelah dimulai kegiatan eskplorasi sejak 2013 hingga lima tahun mendatang.
“Tapi untuk tahap pertama dan kedua, kami hanya bisa menjamin sekitar 55 juta dari nilai kontrak 110 kubik per hari (mmscfd),” kata Eka Satria. Ia tambahkan, sebelumnya, perusahaan pupuk yang berbasis di Lhokseumawe itu sudah teken kontrak dengan PT Medco E&P Malaka untuk pasokan gas sejumlah 110 juta kubik per hari (mmscfd) untuk kebutuhan lebih kurang selama lima tahun. Karena selama ini, PT PIM harus mendatangkan pasokan gas yang diangkut dari luar Aceh dengan kapal kargo. (yuh)
Sumber : Serambinews.com
Tampilkan postingan dengan label Pertambangan dan energi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pertambangan dan energi. Tampilkan semua postingan
Minggu, 26 Juni 2011
Kamis, 21 April 2011
Pasific Oil & Gas Mulai Eksploitasi Blok Peureulak
Sun, Mar 13th 2011, 09:47
RANTO PEUREULAK — Pacific Oil & Gas (POG) sudah mulai mengeksploitasi minyak di Blok Peureulak, Aceh Timur. Untuk tahap pertama, perusahaan multinasional yang bergerak dalam pengembangan energi itu akan mengebor empat sumur minyak dari 15 sumur yang akan diekspoloitasi.
Menandai beroperasinya POG di Blok Peureulak, dilakukan peusijuek RIG (rangkaian peralatan khusus yang digunakan untuk mengebor) di kawasan Alue Udep-Mata Ie, Kecamatan Ranto Peureulak, Kamis (10/3) siang. Namun, prosesi peusijuek tersebut sempat diwarnai aksi protes yang mengagetkan puluhan undangan.
Amatan Serambi, seremoni pembukaan sempat lancar-lancar saja, akan tetapi saat panitia mempersilakan Tgk Muhammad Yahya untuk membaca doa, tiba-tiba suasana menjadi berubah. Sebab, Tgk Yahya sebelum berdoa sempat berorasi singkat yang intinya mengkritik acara tersebut karena tidak melibatkan anak yatim untuk disantuni oleh pihak panitia. Padahal menghadirkan anak yatim sudah disepakati.
General Manager Pasific Oil & Gas (Peureulak) Ltd, Ali Baskoro melaporkan, setelah melakukan persiapan sekitar lima bulan sejak dimulainya kegiatan persiapan lahan pada pertengahan September 2010, POG telah sampai pada tahapan pekerjaan yang paling menentukan dari serangkaian program yang direncanakan, yakni kegiatan pemboran sumur.
Menurutnya, kegiatan pengeboran sangat penting bagi POG karena dengan pengeboran diharapkan pihaknya dapat memperoleh data yang akurat dari kondisi bawah tanah untuk menentukan masih ada atau tidak minyak dalam lapangan Peureulak, serta dapat menentukan metode yang paling tepat untuk memproduksinya.
Ali menjelaskan, POG sebagai mitra Pertamina-EP, secara keseluruhan telah sepakat untuk melakukan pengeboran 15 sumur di lapangan Peureulak. Ini adalah sumur yang pertama dinamakan sumur POG-D dan akan diikuti dengan pengeboran sumur-sumur lainnya, seperti sumur E yang berjarak sekitar 800 meter dari lokasi kegiatan peusijuek RIG. “Sumur C di Desa Mata Ie, sumur B di Desa Pertamina, dan seterusnya di areal seluas 10 Km di Ranto Peureulak ini. Pengeboran ini akan meliputi enam desa di Ranto Peureulak dan satunya di Desa Paya Meuligoe, Kecamatan Peurelak Kota,” rinci Ali Baskoro.
Lebih lanjut ia mengatakan, saat ini ada empat lokasi sumur yang telah disiapkan dan satu lokasi lagi yaitu sumur POG-L sedang dalam proses pembebasan lahan. Bupati Aceh Timur, Muslim Hasballah mengatakan, upaya pengeboran sumur minyak oleh POG sangat dinanti-natikan oleh Pemkab Aceh Timur beserta masyarakatnya dalam upaya meningkatkan pendapatan daerah dari sektor minyak dan gas.
Bupati mengharapkan kepada seluruh masyarakat dapat bekerjasama untuk menciptakan keamanan yang kondusif sehingga investor merasa nyaman dalam menanamkan modalnya. “Dengan keberhasilan POG ini nantinya juga akan membawa angin segar terhadap iklim investasi di Aceh Timur. Di mana kita juga berharap para investor lain akan ikut menanamkan modalnya,” demikian Muslim Hasballah.(is)
Sumber : Serambinews.com
RANTO PEUREULAK — Pacific Oil & Gas (POG) sudah mulai mengeksploitasi minyak di Blok Peureulak, Aceh Timur. Untuk tahap pertama, perusahaan multinasional yang bergerak dalam pengembangan energi itu akan mengebor empat sumur minyak dari 15 sumur yang akan diekspoloitasi.
Menandai beroperasinya POG di Blok Peureulak, dilakukan peusijuek RIG (rangkaian peralatan khusus yang digunakan untuk mengebor) di kawasan Alue Udep-Mata Ie, Kecamatan Ranto Peureulak, Kamis (10/3) siang. Namun, prosesi peusijuek tersebut sempat diwarnai aksi protes yang mengagetkan puluhan undangan.
Amatan Serambi, seremoni pembukaan sempat lancar-lancar saja, akan tetapi saat panitia mempersilakan Tgk Muhammad Yahya untuk membaca doa, tiba-tiba suasana menjadi berubah. Sebab, Tgk Yahya sebelum berdoa sempat berorasi singkat yang intinya mengkritik acara tersebut karena tidak melibatkan anak yatim untuk disantuni oleh pihak panitia. Padahal menghadirkan anak yatim sudah disepakati.
General Manager Pasific Oil & Gas (Peureulak) Ltd, Ali Baskoro melaporkan, setelah melakukan persiapan sekitar lima bulan sejak dimulainya kegiatan persiapan lahan pada pertengahan September 2010, POG telah sampai pada tahapan pekerjaan yang paling menentukan dari serangkaian program yang direncanakan, yakni kegiatan pemboran sumur.
Menurutnya, kegiatan pengeboran sangat penting bagi POG karena dengan pengeboran diharapkan pihaknya dapat memperoleh data yang akurat dari kondisi bawah tanah untuk menentukan masih ada atau tidak minyak dalam lapangan Peureulak, serta dapat menentukan metode yang paling tepat untuk memproduksinya.
Ali menjelaskan, POG sebagai mitra Pertamina-EP, secara keseluruhan telah sepakat untuk melakukan pengeboran 15 sumur di lapangan Peureulak. Ini adalah sumur yang pertama dinamakan sumur POG-D dan akan diikuti dengan pengeboran sumur-sumur lainnya, seperti sumur E yang berjarak sekitar 800 meter dari lokasi kegiatan peusijuek RIG. “Sumur C di Desa Mata Ie, sumur B di Desa Pertamina, dan seterusnya di areal seluas 10 Km di Ranto Peureulak ini. Pengeboran ini akan meliputi enam desa di Ranto Peureulak dan satunya di Desa Paya Meuligoe, Kecamatan Peurelak Kota,” rinci Ali Baskoro.
Lebih lanjut ia mengatakan, saat ini ada empat lokasi sumur yang telah disiapkan dan satu lokasi lagi yaitu sumur POG-L sedang dalam proses pembebasan lahan. Bupati Aceh Timur, Muslim Hasballah mengatakan, upaya pengeboran sumur minyak oleh POG sangat dinanti-natikan oleh Pemkab Aceh Timur beserta masyarakatnya dalam upaya meningkatkan pendapatan daerah dari sektor minyak dan gas.
Bupati mengharapkan kepada seluruh masyarakat dapat bekerjasama untuk menciptakan keamanan yang kondusif sehingga investor merasa nyaman dalam menanamkan modalnya. “Dengan keberhasilan POG ini nantinya juga akan membawa angin segar terhadap iklim investasi di Aceh Timur. Di mana kita juga berharap para investor lain akan ikut menanamkan modalnya,” demikian Muslim Hasballah.(is)
Sumber : Serambinews.com
Langganan:
Postingan (Atom)