Tampilkan postingan dengan label infrastruktur rusak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label infrastruktur rusak. Tampilkan semua postingan

Rabu, 01 Juni 2011

Lintas Julok-Alue Ie Mirah Rusak Berat

Sat, Apr 2nd 2011, 09:17

IDI - Sepanjang 14 kilometer jalan yang menghubungkan Julok-Alue Ie Mirah, Aceh Timur, kini dalam kondisi rusak berat. Pasalnya sepanjang jalan tersebut kini dipenuhi lubang dan berlumpur. Bahkan, tujuh unit jembatan yang ada juga terancam ambruk. Menurut Hasballah (38) warga Julok, kondisi badan jalan Julok-Alue Ie Mirah kini sangat sulit dilalui berbagai jenis kendaraan. Pasalnya, jalan tersebut kini berlubang serta berlumpur, sehingga kondisi jalan itu tak ubahnya seperti kubangan kerbau. Hasballah menyebutkan, lintas Julok-Alue Ie Mirah merupakan jalan penghubung dua kecamatan yang selama ini menjadi urat nadi perekonomian masyarakat di kawasan pedalaman Aceh Timur.

Kondisi jalan seperti itu, tambah Hasballah, sangat menyulitkan petani saat membawa hasil pertanian dan kebun ke pusat kota kecamatan. “Kalau jalan masih bisa mengelak meski berlubang di sana sini. Namun, lain halnya dengan kondisi jembatan. Bahkan, saat truk terperosok membuat macet sampai satu hari,”tambah Hasballah. Selain itu, katanya, sejumlah jembatan di lintasan jalan Alue Ie Mirah, seperti jembatan Buket Siraja, jembatan Blang Mideun, jembatan Buket Panyang, dan jembatan Seneubok Baro, yang kini kondisinya terancam ambruk. Dalam beberapa hari terakhir di jembatan Buket Siraja, ujung jembatan itu sempat putus hingga tak dapat dilintasi kenderaan roda empat. Akhirnya Rabu (29/3) jembatan tersebut diperbaiki warga dengan cara bergotong royong.(is)

Sumber : Serambinews.com

Senin, 02 Mei 2011

Warga Minta Dibangun Jembatan Gantung

* Perlancar Transportasi Pulo Blang-Paya Meuligoe
Wed, Mar 16th 2011, 09:12

PEUREULAK - Warga yang bermukim di dua kecamatan, yakni Kecamatan Peureulak Kota dan Kecamatan Ranto Peureulak, Aceh Timur, meminta pemerintah segera membangun jembatan gantung yang menghubungkan Desa Pulo Blang (Ranto Peureulak) dan Paya Meuligoe (Peureulak Kota) untuk memudahkan transportasi warga dari sejumlah desa di sana untuk mengangkut hasil alamnya.

Keterangan yang diperoleh Serambi, Selasa (15/3), sebelumnya sudah ada jembatan gantung antara Desa Pulo Blang dan Desa Paya Meuligoe. Namun, saat kecamuk konflik, jembatan yang menjadi urat nadi bagi warga tersebut, dibongkar oleh orang yang tidak bertanggungjawab.

Kini, yang ada hanya beton peyangga kawat di dua sisi sungai antara Pulo Blang dan Paya Meuligoe. Selama ini, warga yang ingin menyeberang terpaksa menggunakan sampan untuk berbagai keperluan dengan resiko yang sangat besar, apalagi saat air pasang.

Dalam surat permohonan yang diteken Keuchik Paya Meuligoe Ismail Yusuf, diketahui Camat Peureulak Kota Yasuddin, dan surat lainnya yang diteken Keuchik Pulo Blang M Yatim serta diketahui Camat Ranto Peureulak Drs Zulbahri, disebutkan bahwa jembatan gantung tersebut sangat dibutuhkan warga sejumlah desa. Kedua surat tersebut diperlihatkan oleh tokoh KPA Peureulak Usman Husein alias Usman Panyang kepada Serambi, kemarin.

Menurut Usman, jembatan gantung tersebut sangat dibutuhkan oleh warga Paya Meuligoe, Paya Kalui, Bandrong, Blang Seuneubok, Lhok Paya, dan Paya Gajah Alue Dua (Kecamatan Peureulak Kota). Selain itu, warga Desa Paya Unoe, Pulo Blang, Seuneubok Johan, Blang Barom, Seunebok Baro, Seuleumak Muda, dan Seuneubok Dalam.

Warga, kata Usman, sangat berharap adanya kepedulian pihak provinsi untuk membangun jembatan gantung yang dirusak akibat konflik. Apalagi dengan adanya jembatan tersebut akan memperpendek rentang transportasi warga yang hendak ke pusat kota Peureulak dan ke Ranto Peureulak. “Kalau ada jembatan gantung, warga yang bermukim di wilayah satu Seuneubok Baro hanya beberapa menit saat saja bisa tembus ke Peureulak,” ungkapnya.

Beberapa waktu lalu juga diberitakan, kendati telah rusak sejak tahun 2003 silam, namun jembatan gantung yang menghubungkan Kecamatan Peureulak Kota dan Ranto Peureulak, tidak pernah dibangun kembali. Kini ratusan siswa asal tiga desa, Blang Simpo, Lubok Pempeng, dan Cekmbon, Kecamatan Peureulak Kota, Aceh Timur, terpaksa naik sampan untuk pergi ke sekolah mereka yang terletak seberang sungai dalam Kecamatan Ranto Peureulak, Aceh Timur.(is)

Sumber : Serambinews.com

Minggu, 13 Februari 2011

23 Km jalan Aceh hancur

Saturday, 15 January 2011 18:05

ACEH TIMUR - Pemerintah provinsi Aceh, selama ini masih dinilai pasif. Pasalnya, 21 kilometer lintasan utama Julok-Indra Makmur-Nurussalam-Banda Alam dan Idi Tunong, Kabupaten Aceh Timur, dalam kondisi hancur.

Meski di beberapa titik telah diaspal, namun sejumlah titik dalam beberapa kecamatan di pantai timur Aceh, bagaikan kubangan kerbau. Selain mengganggu arus transportasi, petani dan pelajar, juga kerap makan korban akibat terperosok ke dalam lubang.

Dua puluh tiga kilometer lintasan utama yang hancur total, yakni 12 kilometer jalan mulai dari Desa Buket Panyang ke Desa Blang Nisam, Kecamatan Julok, satu kilometer lintasan Alue Ie Mirah, Kecamatan Indra Makmur menuju Desa SDM.

Lima kilometer lintasan utama dari Desa Seuneubok Cina menuju Alue Siwah, dan enam kilometer jalan utama dari Desa Alue Siwah Serdang menuju Keude Geurobak, Kecamatan Banda Alam.

“Kondisi badan jalan sudah lama hancur total. Bahkan, hampir 20 tahun jembatan utama dan jalan sebagai sarana transportasi, rusak parah. Tapi ironisnya Pemda Aceh, masih diam tanpa berbuat apapun,” ujar Khairullah, tokoh masyarakat Julok, tadi pagi.

Menurutnya, akibat rusaknya jalan dan hancurnya jembatan seperti di Desa Buket Panyang, Kecamatan Julok, menyulitkan pengguna jalan, baik roda dua maupun roda empat dalam menurunkan hasil alam.

Camat Banda Alam, Abdul Aziz, membenarkan sejumlah titik jalan utama di wilayah kerjanya telah lama mengalami kerusakan. Selain akibat dimakan usia, kondisi jalan yang digenangi banjir juga kerap dilintasi truk bermuatan berat.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum (PU) Aceh Timur, M Yusuf Adam, membenarkan jalan Julok-Indra Makmur dalam kondisi rusak. Namun, pihaknya mengaku, sejumlah titik telah diperbaiki dalam tiga tahun terakhir dengan menggunakan anggaran APBA dan otsus. “Secara bertahap akan kita perbaiki,” tandasnya.

Sumber : Waspada.co.id

Selasa, 01 Februari 2011

Pemerintah Didesak Perbaiki Lintasan Julok-Indra Makmue

Thu, Jan 13th 2011, 08:38

JULOK - Partai Rakyat Aceh (PRA) Aceh Timur, mendesak pemerintah setempat agar secepat mungkin memperbaiki sejumlah jembatan dan ruas jalan yang rusak di lintasan Julok-Indra Makmue. Kondisi jembatan dan jalan di lintasan tersebut sangat memprihatinkan. Kendati telah hampir 20 tahun rusak parah namun belum juga diperbaiki.

“Masyarakat sudah sangat menderita selama konflik, kita harap dalam suasana damai bisa membawa warga agar dapat hidup layaknya dengan menikmati pembangunan. Kalau mau jujur, daerah pedalaman Indra Makmue, merupakan penghasil PAD yang lumayan besar dari sektor perkebunan saat ini,” kata Ketua PRA Aceh Timur, Chairullah SPd, Rabu (12/1).

Dia menambahkan, sampai sejauh ini belum ada tanda-tanda sejumlah jembatan dan jalan rusak akan diperbaiki. “Kerusakan kedua infrastruktur ini telah menyebabkan roda ekonomi warga terganggu,” ujarnya.

Karenanya ia mendesak agar Dinas PU Aceh Timur dan PU Aceh bisa menyahuti kondisi tersebut, dengan segera merancang program pembangunan jembatan dan jalan dalam anggaran 2011 ini.

Sebelumnya diberitakan, empat unit jembatan penghubung yang melintasi daerah aliran sungai (DAS) Kecamatan Julok-Kecamatan Indra Makmue, Aceh Timur, Kamis (11/11/2010) malam, ambruk akibat dihantam arus sungai yang sangat deras.(is)

Sumber : Serambinews.com

Pemerintah Didesak Perbaiki Lintasan Julok-Indra Makmue

Thu, Jan 13th 2011, 08:38

JULOK - Partai Rakyat Aceh (PRA) Aceh Timur, mendesak pemerintah setempat agar secepat mungkin memperbaiki sejumlah jembatan dan ruas jalan yang rusak di lintasan Julok-Indra Makmue. Kondisi jembatan dan jalan di lintasan tersebut sangat memprihatinkan. Kendati telah hampir 20 tahun rusak parah namun belum juga diperbaiki.

“Masyarakat sudah sangat menderita selama konflik, kita harap dalam suasana damai bisa membawa warga agar dapat hidup layaknya dengan menikmati pembangunan. Kalau mau jujur, daerah pedalaman Indra Makmue, merupakan penghasil PAD yang lumayan besar dari sektor perkebunan saat ini,” kata Ketua PRA Aceh Timur, Chairullah SPd, Rabu (12/1).

Dia menambahkan, sampai sejauh ini belum ada tanda-tanda sejumlah jembatan dan jalan rusak akan diperbaiki. “Kerusakan kedua infrastruktur ini telah menyebabkan roda ekonomi warga terganggu,” ujarnya.

Karenanya ia mendesak agar Dinas PU Aceh Timur dan PU Aceh bisa menyahuti kondisi tersebut, dengan segera merancang program pembangunan jembatan dan jalan dalam anggaran 2011 ini.

Sebelumnya diberitakan, empat unit jembatan penghubung yang melintasi daerah aliran sungai (DAS) Kecamatan Julok-Kecamatan Indra Makmue, Aceh Timur, Kamis (11/11/2010) malam, ambruk akibat dihantam arus sungai yang sangat deras.(is)

Sumber : Serambinews.com

Sejumlah Jembatan Negara di Aceh Timur Berlubang

* BMCK Aceh Diminta Segera Memperbaiki
Thu, Jan 13th 2011, 08:13

IDI - Sejumlah jembatan di jalan negara dalam kawasan Aceh Timur, kini kondisi berlubang serta mengancam keselamatan pengendara, baik roda dua maupun roda empat. Jembatan yang berlubang tersebut antara lain jembatan Bagok, Idi Rayeuk, Peureulak, dan jembatan Sungai Raya. Kendati belum sampai menyebabkan korban tewas, tapi selama ini jembatan-jembatan tersebut telah menyababkan sejumlah sepmor maupun mobil terperosok.

Amatan Serambi, di jembatan Idi Rayeuk terdapat lubang pada sambungan jembatan dengan badan jalan. Sementara di jembatan Kampung Beusa, Peureulak, lubang terdapat di sisi tengah jembatan dan pada sisi sambungan kepala jembatan.

Meski sudah berulang kali ditambal, namun lubang tersebut kembali mengangga. Kondisi yang paling parah terdapat di atas jembatan Sungai Raya, selain lubang besar pada kepala jembatan, juga terdapat lubang di atas jembatan akibat aspal terkelupas.

Ismail dan Munawir, warga Aceh Timur yang sering melintasi sejumlah jembatan tersebut, Rabu (12/1) mengatakan, lubang di atas jembatan negara sudah lama terjadi. Tapi, anehnya setelah diperbaiki kemudian rusak kembali. Padahal, kondisi tersebut sangat membahayakan pengendara, mengingat lintasan itu sangat padat arus kendaraan. “Terutama bagi pengendara malam hari, ini sangat membahayakan,” sebut Ismail.

Warga meminta pihak Bina Marga dan Cipta Karya (BMCK) Aceh supaya mendata dan memperbaiki jembatan di trans jalan nasional itu. Langkah tersebut harus dilakukan sebelum menimbulkan korban pada pengendara. Konon lagi, selama ini lintas negara kerap dilalui para pejabat, baik dari provinsi maupun dari tingkat kabupaten. “Maka mustahil bila mereka tidak mengetahuinya,” ujar Munawir.(is)

Sumber : Serambinews.com

Senin, 03 Januari 2011

Tiga Jembatan di Mata Ie Rusak Parah

* Hanya Bisa Dilintasi Kendaraan Roda Dua
Thu, Dec 23rd 2010, 11:41



Warga sedang melintasi jembatan Mata Ie, Kecamatan Ranto Peureulak, Aceh Timur, yang kondisinya rusak parah. Hal itu mengakibatkan truk pengangkut hasil bumi tak bisa masuk ke kawasan pedalaman tersebut. Foto direkam beberapa waktu lalu. SERAMBI/ISKANDAR USMAN


ANTO PEUREULAK - Tiga unit jembatan penghubung di Desa Mata Ie, Kecamatan Ranto Peureulak, Aceh Timur, kini kondisinya dilaporkan rusak parah. Untuk sementara waktu, arus transportasi menuju pusat kota kecamatan terganggu. Warga yang ingin mengeluarkan hasil alamnya berupa sawit terpaksa melansirnya melalui kawasan Pada Kunyet, Kecamatan Peudawa dan Rantau Panjang. Saat ini hanya kendaraan roda dua yang bisa melintasi kedua jembatan itu.

Tokoh Pemuda Mata Ie, Damhuri alias Pak Hur, kepada Serambi, Rabu (22/12) mengatakan, tiga unit jembatan yang rusak parah, salah satunya di Dusun Buket Selamat. Jembatan ini tidak bisa lewat sama sekali. Selama ini, jembatan tersebut dilintasi oleh warga Mata ie dan Alue Udep.

Dikatakannya, untuk bisa pergi ke pusat kota kecamatan dan sejumlah desa lain, warga di dua desa itu terpaksa menempuh perjalanan melalui jalan lorong, itu pun mobil berbadan kecil. Sementara kendaraan besar seperti truk harus melalui Padang Kunyet. Namun, karena jalan Padang Kunyet juga rusak, belakangan rute angkutan barang jenis truk harus stand by di Rantau Panjang.

“Barang milik masyarakat harus dilansir dengan kendaraan roda dua, kemudian baru dinaikkan ke dalam truk,” kata Pak Hur. Ia juga menjelaskan, tiga jembatan yang kondisi rusak parah berukuran 8 X15, dengan kondisi alas jembatan sudah copot. Sementara besi peyangga juga dalam keadaan lapuk. Untuk itu, pihaknya atas nama masyarakat setempat, sangat mengharapkan pemerintah melalui dinas PU agar mendata serta memperbaiki jembatan yang menjadi urat nadi perekonomian warga yang bermukim di kawasan pedalaman tersebut.(is)

Sumber : Serambinews.com

Rabu, 08 Desember 2010

Tiga Mobil Terperosok di Jembatan Seuneubok Saboh

* Jembatan Alue Nek Ambruk Dihantam Banjir
Sat, Dec 4th 2010, 11:42

LHOKNIBONG - Tiga mobil warga dilaporkan telah terperosok di jembatan rusak Desa Seuneubok Saboh, Kecamatan Pante Bidari, Aceh Timur, belum lama ini, akibat belum diperbaikinya jembatan yang telah lama rusak tersebut. Sementara satu unit jembatan lainnya, yakni jembatan Alue Nek, Pante Labu, ambruk akibat dihantam banjir beberapa waktu lalu.

Ismail Lidan (45), salah seorang tokoh masyarakat Pante Bidari, kepada Serambi, Jumat (3/12) mengatakan, jembatan Seuneubok Saboh telah lama rusak, meski sempat direhab sekitar setahun lalu. "Sudah ada tiga unit mobil saat melintas terperosok di sana. Jembatan ini merupakan satu-satunya sarana lalu lintas warga untuk keluar ke pasar Lhoknibong. Jika tidak segera ditangani maka akan ambruk," katanya.

Ia menambahkan, terdapat satu jembatan lagi di kawasan Pante Labu, yakni jembatan Alue Nek yang telah ambruk akibat dihantam banjir beberapa waktu lalu. Jembatan tersebut, kata dia, sangat dibutuhkan warga dalam menunjang aktivitas sehari-hari. Untuk itu, Ismail sangat mengharapkan pemerintah agar dapat segera membangun kedua jembatan tersebut.

Kecuali itu, Ismail juga mengakui banyak jembatan lain yang rusak, seperti jembatan Alue Ie Mirah yang kondisi juga kritis. Kepala Dinas Pekerjaan Umum (PU) Aceh Timur, Yusuf Adam, kepada Serambi siang kemarin mengatakan, jembatan Seuneubok Saboh sudah masuk dalam daftar jembatan yang akan dibangun. Sementara beberapa jembatan lain yang dilaporkan rusak akan diinvetarisir untuk dibangun sesuai dengan kemampuan anggaran yang dimiliki pemerintah. "Kalau Seuneubok Saboh itu sudah masuk, dan akan segera dikerjakan," katanya.(is)

Sumber : Serambinews.com

Minggu, 14 November 2010

Dihantam Arus Sungai, Empat Jembatan di Julok Ambruk

Sat, Nov 13th 2010, 11:10

* Penduduk Indra Makmue Terkurung
JULOK - Empat unit jembatan yang menghubungkan sejumlah desa di Kecamatan Julok hingga Kecamatan Indra Makmue, Aceh Timur, ambruk dihantam arus sungai yang sangat deras pada Kamis (11/11) malam. Menguatnya arus sungai disebabkan bertambahnya volume air lantaran banjir kiriman dari wilayah pedalaman.

Sementara itu, satu unit jembatan lagi, kini dalam kondisi menunggu ambruk karena tanah di bagian pangkal (abudment)-nya sangat labil. Dilaporkan juga bahwa ribuan jiwa yang bermukim di Kecamatan Indra Makmue, kini terkurung. Mereka tak bisa turun lagi ke Julok, karena jembatan penghubung antardesa ambruk.

Berdasarkan informasi yang dihimpun Serambi, Jumat (12/11), keempat jembatan ambruk pada pangkal (kepala)-nya. Sebelumnya pun semua jembatan di lintas Julok-Indra Makmue memang dalam kondisi rusak, tapi sering diperbaiki. Perbaikannya terkadang atas swadaya masyarakat.

Tapi kerusakan kali ini merupakan yang terparah sepanjang tahun 2010, sehingga mengakibatkan warga Kecamatan Indra Makmue terisolasi. Bila tidak ditangani dengan cepat, diperkirakan distribusi logistik dari Julok ke Indra Makmue terhenti total dan ujung-ujungnya ancaman kelaparan menghadang.

Amatan Serambi, warga yang menggunakan kendaraan roda dua meski bisa melintasi jembatan yang ambruk itu, tapi harus mendorong sepmornya di atas dua papan yang diletakkan sebagai penyambung daratan dengan badan jembatan yang masih tersisa. Rata-rata jembatan ambruk di bagian pangkal akibat daya tahan tanahnya yang tidak stabil.

Khusus kendaraan roda empat sampai tadi malam sama sekali tidak bisa lewat pascaambruknya pangkal jembatan. Camat Julok Amiruddin NN yang turun ke lokasi bersama Kadis PU Aceh Timur Yusuf Adam, mengatakan, keempat jembatan itu ambruk disebabkan derasnya air sungai di kawasan tersebut. “Ini karena hujan lebat pada Kamis malam,” sebutnya.

Empat jembatan yang ambruk itu, menurutnya, adalah jembatan yang terletak di Desa Blang Miduen, Buket Panyang, Teupin Raya, dan Labuhan. Sedangkan yang terletak di Desa Buket Siraja tinggal menunggu waktu saja untuk ambruk.

Saat ditanya apa langkah penanganan yang akan dilakukan, pihaknya mengaku sedang meninjau jembatan-jembatan yang pangkalnya longsor dan akan segera ditangani bersama PU.

Menurutnya, dinas PU juga akan mengerahkan alat berat ke lokasi untuk menangani longsoran di pangkal jembatan tersebut. “Yang ambruk saat ini memang masih sebatas pangkal jembatan, sekitar 3-5 meter dari daratan. Tapi, jika tidak ditangani dengan cepat. Seluruh tubuh jembatan lama itu akan ambruk total,” ujarnya memprediksi.

Nasir, warga Julok, menambahkan, longsornya sejumlah pangkal jembatan di sana disebabkan tiga faktor. Pertama, akibat arus deras. Kedua, kondisi jembatan yang sudah usang. Ketiga, menggilanya pengerukan sungai beberapa waktu lalu.

“Jembatan-jembatan ini dibangun oleh Asamera Ltd. Tapi di sisi kepala jembatan tidak diletakkan batu atau dibangun beronjong. Jadinya ya seperti ini,” sebut Nasir seraya meminta pihak terkait secepat mungkin memperbaiki jembatan tersebut, sehingga masyarakat di pedalaman, terutama warga dari Kecamatan Indra Makmue, tidak lama terisolasi.(is)

sumber : serambinews.com